Dongeng KANCIL dan MONYET Nakal

Dongeng kancil dan monyet Nakal - Setelah si kancil menolong burung elang pada dongeng si kancil menolong burung elang pada kisah yang lalu, si kancil kemudian pulang ke tengah hutan. Tapi ketika dalam perjalanan, si kancil tak sengaja bertemu dengan beberapa hewan yang sedang berkerumun. sepertinya baru saja ada masalah yang terjadi disini. Karena penasaran, kancil lalu menghampiri mereka untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Hai kawan-kawan, apa yang sedang terjadi? sepertinya kalian sedang ada masalah?". Tanya kancil. "Iya cil.. kami memang sedang ada masalah. Beberapa hari ini, kami dibuat jengkel oleh ulah si monyet yang sangat nakal. Dia  menipu kami dan juga sering mencuri makanan kami. Kami menjadi sangatt resah. dan sekarang ini kami sedang berunding untuk mencari si monyet bersama-sama". jawab para hewan itu. Mendengar jawaban itu, si kancil menjadi teringat perbuatan monyet yang juga sudah menipu burung elang. Lalu si kancil memutuskan untuk membantu mereka mencari monyet itu.

Setelah semua sepakat, mereka pun bersama-sama menuju tkediaman monyet. Setelah sampai di tempat monyet, mereka berteriak dan menyuruh si monyet untuk segera keluar. "Hai monyet..!! Keluar kau..!! kami datang untuk menuntut tanggung jawab mu. Kau harus bertanggung jawabkarena telah menipu kami dan mencuri makanan-makanan kami. Kau harus mau menggantinya..!!". Teriak mereka. Mendengar ada suara gaduh di depan rumahnya, si monyet keluar dari sarangnya. Namun bukanya meminta ma'af, namun si monyet itu malah berdiri dengan angkuhnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Oh.. ternyata ada segerombolan binatang bodoh yang mencari ku. Tadi aku dengar kalian meminta kau untuk bertanggung jawab? Untuk apa? Lagi pula itu bukan kesalahan ku. Itu murni kesalahan karena kebodohan kalian sehingga mudah di tipu. Hahahaha..". Kata monyet itu meledek. Mendengar jawaban si monyet, tentu saja para hewan yang ada di situ menjadi sangat marah. Namun si monyet berada di atas pohon yang sangat tinggi, sedangkan para hewan itu tidak pandai memanjat. Sehingga yang bisa mereka lakukan hanyalah meneriaki si monyet dengan sumpah serapah.


kancil dan monyet
Monyet

"Apapun kata kalian, aku tak perduli. Jika aku tak mau mengganti makanan kalian, kalian mau apa? Lagipula hewan-hewan bodoh yang lamban seperti kalian, tak mungkin bisa  menangkap aku. Aku ini si monyet. Binatang yang sudah di kenal cukup lincah dan cerdik". Kata si Monyet dengan sombongnya. Mendengar perkataan monyet yang sudah keluar batas, akhirnya si kancil maju dan ikut berbicara.

"Baiklah monyet.. mungkin memang benar itu semua bukan sepenuhnya kesalahan mu, tapi karena kebodohan kami hingga kami mudah kau tipu. Namun ini juga akan menjadi sebuah pelajaran bagi kami agar lebih berhati-hati. Mungkin memang sekarang ini kau menang. Kami tak bisa apa-apa dan tak bisa menangkap mu. Tapi itu semua bukan berarti karena kamu lebih pandai, lebih kuat, atau lebih lincah dari kami. Tapi karena saat ini pohon yang tinggi ini tengah melindungi nasib mu. Tapi ingat monyet, kau memiliki dua kaki. dan ada kalanya kau tak bisa naik ke atas pohon dan hanya bisa berjalan di tanah. Jika tiba saat itu, kami akan menangkap dan membuat perhitungan dengan mu. Untuk sekarang, silahkan nikmati kemenangan mu..".  Kata si kancil kemudian mengajak para hewan untuk pergi dari tempat itu.

Melihat para hewan yang berusaha menangkapnya pergi dengan tangan kosong, si monyet menjadi merasa sangat geli. Dia merasa menang dan menertawakan para hewan itu dengan tawa yang terpingkal-pingkal. Bahkan hingga semua hewan itu sudah tidak lagi di situ, si monyet masih saja tertawa. "hahaha.. dasar para hewan bodoh. masak mereka mau mengancam ku? Aku ini monyet. Hewan yang di karuniai kecerdasan dan kegesitan, aku pandai memanjat dan melompat. Dari zaman dulu hingga nanti, akau akan tetap menjadi hewan yang pandai memanjat, mana mungkin kalian bisa menangkap ku? Mimipi dulu sana.. Hahahahahahaha..". Kata Monyet dengan tertawa sepuas-puasnya.

Namun nasib tak ada yang tahu, kesialan menimpa si monyet. Ketika dia tertawa terpingkal-pingkal hingga meloncat-loncat di atas pohon, tiba-tiba kakinya tergelincir. dan akhirnya si monyet jatuh dari atas pohon yang cukup tinggi dan kakinya terkilir. Kini, si monyet merasakan kakinya sangat sakit. jangankan untuk memanjat, untuk berjalan saja dia terpincang-pincang. Kini, si monyet mulai menyadari kesalahanya. tak seharusnya dia berbuat sombong ketika di atas pohon tadi, sehingga membuat para hewan itu semakin marah.

Kini dia berada di atas tanah, dia tak lagi bisa memanjat. Jika para hewan itu tiba-tiba kembali, tentu dia tak mampu lagi berkata dengan nada mengejek seperti tadi. Dia pasti akan merasa takut, resah, dan hawatir seperti yang dia rasakan saat ini. Namun semua sudah terlambat, kini dia harus hidup dalam rasa was-was dan ketakutan jika saja nanti para hewan itu tahu dia tak lagi bisa memanjat. Maka yang ada di fikiranya saat ini adalah sembunyi dan mencari perlindungan yang bisa melindungi keselamatanya. Maka.. mungkin si harimau bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun bagaimana caranya dia membujuk harimau agar mau membantunya? Mungkin bisa di fikirkan sambil jalan dan kita sambung pada dongeng berikutnya.

Story By: Muhammad Rifai  



Hikmah yang dapat Kita Petik: Sifat bodoh adalah hal yang menjadi kelemahan utama. karena kebodohan akan membuat kita mudah di tipu dan di perdaya. Dan juga.. posisi seseorang kadang membuat orang tersebut lupa dan menjadi sangat angkuh. Memiliki jabatan tinggi, atau menjadi kaya raya, kadang membuat kita berbuat semena-mena pada orang-orang di bawah kita karena kita merasa menang. Namun perlu kita ingat, dunia itu berputar. dan posisi kita akan selalu silih berganti, tak selamanya di atas ataupun di bawah.

Post a Comment

1 Comments

Obat Wasir said…
artikelnya sangat bagus gan.. jangan lupa berkunjung juga ke toko si nakal yang menjual berbagai macam kaos nakal