Cerita si KANCIL, kacang AJAIB, dan Sang PENCURI

Cerita si kancil, kacang Ajaib, dan sang Pencuri - Hutan Eutopia yang indah, mentari pagi hari menciptakan pemandangan menakjubkan di hutan itu. Ibarat sebuah lukisan kanvas, sinar keemasan dari sang surya menembus kabut tipis seperti tabir yang samar. Si Kancil terlihat menguap di depan rumahnya. Dia baru saja bangun dari mimpi indahnya semalam, tentang ladang timun yang cukup luas. Sangat... sangat luas.. sehingga tak akan habis meski dia memakanya seumur hidup. Tapi.. lagi-lagi itu hanya sebuah mimpi. Sekarang sudah waktunya bagi si Kancil untuk kembali ke dunia nyata. Dunia dimana semua tak akan dapat di raih kecuali dengan usaha.

Saat ini adalah akhir dari musim penghujan, yang berarti sebentar lagi akan memasuki musim kemarau. Untuk beberapa hewan, masa ini adalah masa dimana mereka harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan makanan. Karena jika musim kemaru tiba, makanan akan sangat sulit di dapat. Si kancil berjalan menyusuri hutan. Menyapa siapa saja yang ditemuinya. Ada koloni semut yang tengah sibuk bergotong royong mengumpulkan makanan, burung-burung yang sibuk mengumpulkan biji-bijian dan di simpan di sarang, atau si Tupai yang sibuk mengumpulkan kacang dan buah kenari. Semua terlihat sibuk dengan kepentinganya masing-masing. Sedangkan si Kancil hanya bisa melihat mereka dengan senyum bahagia. sungguh kehidupan yang indah penuh harmoni.

Namun tiba-tiba si Kancil di kagetkan oleh suara ribut. Sepertinya ada yang tengah bertikai disana. Si Kancil segera mencari dari mana arah suara itu, dan dia menemukan empat sekawan yang sepertinya sedang ada masalah di antara mereka. Mereka adalah empat tupai bersaudara, yaitu Kiki, Koko, Kuku, dan Kaka. Mereka sepertinya sedang bertikai karena suatu hal. Si kanci akhirnya mendekati mereka, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Hai kawan.. ada masalah apa disini..?". Tanya kancil.
Mendengar ada suara yang bertanya pada mereka, kontan mereka berhenti berdebat dan memalingkan perhatian mereka ke arah kancil.
"Oh.. rupanya kamu cil. Kami sedang mencari pencuri yang mencuri makanan yang kami kumpulkan. Tapi masalahnya, tidak ada yang tahu tempat kami menyimpan makanan kecuali kami sendiri. Sehingga kami yakin, pencuri itu adalah salah satu di antara kami". Jawab Kiki sebagai saudara tertua.
"Hmm.. jadi kalian berdebat untuk menentukan siapa yang mencuri makanan secara diam-diam? begitu..?". tanya kancil lagi.
"Iya.. benar demikian. Tapi tanpa adanya saksi dan bukti yang jelas, kami hanya bisa saling tuduh tanpa bisa tahu kepastianya. Sehingga yang terjadi malah kami saling debat karena tak ada yang mau disalahkan dan diangap sebagai pencuri, termasuk aku". Jawab Kiki lagi.

"Hmm.. jadi begitu ceritanya..? Cukup sulit dan rumit. apalagi tanpa adanya saksi dan bukti yang jelas. Beri aku waktu sebentar, aku akan coba mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini". Kata kancil.
Lalu kancil berjalan mondar mandir di sekitar tempat itu, sepertinya dia tangah mencari-cari sesuatu. Ibarat detektif yang sedang mencari bukti di tempat kejadian perkara. Matanya tajam menyusur ke segala arah, bahkan hingga detail terkecil. Dan beberapa saat kemudian, si Kancil terlihat tersenyum.
"Tunggu aku disini sebentar, aku ingin mengambil sesuatu". Kata kancil sambil berlalu meningalkan empat bersaudara itu dengan tatapan bingung.

Beberapa saat kemudian, si kancil kembali. Namun kali ini dia membawa sebuah kantong kecil, entah apa isinya. Kiki, Koko, Kuku, dan Kaka saling pandang. Mereka bertanya-tanya sebenarnya apa yang akan dilakukan si Kancil kali ini. Karena tak bisa menahan rasa penasaranya, akhirnya Kuku bertanya..
"Apa yang kau bawa itu cil..? Bagaimana cara mu membantu masalah kami dengan kantong itu?". tanya Kuku.
"Sabar.. bukan kantongnya yang akan kita gunakan. Tapi isi yang ada di dalam kantong ini yang akan bisa membantu masalah kita nanti. Isi yang ada di dalam kantong ini cukup spesial, dan hanya aku yang memilikinya. Bahkan si Harimau yang dikenal sebagai Raja Hutan, tak punya yang seperti ini". Kata Kancil sambil tersenyum.

Tentu saja tingkah laku si kancil itu membuat empat bersaudara itu semakin penasaran.
"Memang itu isinya apa Cil..? Apa begitu spesial?". Kali ini si Koko yang bertanya.
"Waaahhh.. kau tak tahu? Isi kantong ini sangat spesial.. karena ini kantong ini adalah hadiah dari Raja sulaiman khusus untuk ku". jawab Kancil dengan percaya diri.
"Benarkah..?  Lalu apa kegunaanya..? Dan apa isi kantong itu..?". Kali ini si Kaka yang bertanya.
"Kantong ini berisi empat kacang ajaib, dan kacang ini sangat berguna untuk membantu masalah kalian. Nanti, kalian akan ku beri satu kacang ajaib untuk masing-masing dari kalian.Lalu makan kacng itu sebelum kalian tidur. Siapa saja yang ternyata mencuri makanan kalian, maka ketika bangun mereka akan terkena hukuman. Akan tumbuh pohon kacang dari atas kepalanya, sehingga sudah bisa ditebak siapa yang mencuri". Kata si kancil menjelaskan.

Setelah itu, si kancil membagi mereka masing-masing satu buah kacang, lalu si kancil pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya, kancil kembali datang menemui mereka. Namun mereka malah terlihat semakin bingung, dan kembali terjadi cekcok diantara empat saudara itu.Si kancil sebenarnya sudah tahu mengapa empat bersaudara itu terlihat semakin bungung dan malah tambah ribut, karena dari empat bersaudara tersebut, tak ada satupun yang tumbuh kacang di kepalanya. Sehingga masalah terlihat semakin rumit.

"Sudah.. sudah.. tak usah saling menyalahkan lagi..Kalian tak usah bingung, nanti juga ketemu siap pencuri yang sebenarnya. Karena kalian sudah memakan kacang ajaib ku dan ternyata tidak terjadi apa-apa, berarti kalian semua bukan pencurinya. Tapi aku masih memiliki satu pertanyaan yang harus di jawab masing-masing dari kalian secara rahasia. Hanya antara aku dan yang bersangkutan saja. Jadi nanti tiap masing-masing dari kalian akan ku panggil, dan ku beri satu pertanyaan. Jawab saja dengan jujur dan yakin. Sedangkan yang belum ku panggil, silahkan berkumpul dan menunggu giliranya'. Kata kancil menjelaskan.

Empat bersaudara itu akhirnya mengikuti kemauan kancil. Setiap dari mereka dipanggil dan diberi satu pertanyaan, hingga semua selesai. Setelah itu, si kancil mendatangi mereka yang sudah berkumpul.
"Sekarang aku tahu siapa pencurinya..". Kata kancil tiba-tiba.
Kontan saja hal tersebut membuat emapt bersaudara itu kaget, karena dari segi manapun, tak ada bukti bahwa pencurinya adalah salah satu dari mereka.
"Yang mencuri makanan kalian, adalah si Kuku, dan itu sudah pasti". kata kancil dengan yakin.

Tentu saja si Kuku yang mendengar tuduhan tersebut merasa tidak terima, karena si kancil tidak memiliki bukti apapun dan hanya asal tuduh saja tanpa alasan.
Namun hal tersebut di tanggapi si kancil dengan senyuman saja. Lalu, si kancil mulai menjelaskan masalah yang sebenarnya..
"Sebenarnya.. kacang yang kalian makan itu bukan kacang ajaib, melainkan kacang biasa yang aku pungut. Aku mengatakan itu sebagai kacang ajaib memang untuk mengelabui kalian, agar si pencuri yang sebenarnya bisa ditemukan".

"Bukankah aku pernah bilang, jika pencuri yang memakanya, maka akan tumbuh pohon kacang di atas kepalanya? Itu semua hanya akal-akalan ku saja. Aku berkata begitu, untuk menggertak si pencuri yang sebenarnya. Jika memang dia mencuri, pasti dia takut jika kepalanya tumbuh pohon kacang, maka dia akan ketahuan. Karena itu, dia tidak akan memakan kacang yang ku berikan.Sehingga dia tidak tahu bagaimana rasanya kacang yang ku berikan bukan?".

"Tadi masing-masing dari kalian sudah ku tanyai satu persatu secara terpisah, dan pertanyaan ku cukup simpel. Bagaimana rasanya kacang yang kau makan..?Dan jawaban tiga dari kalian sama, kecuali si Kuku. Dia menjawab salah karena dia memang tidak tahu rasanya, sebab dia tidak memakan kacangnya. Kacang yang kuberikan pada kalian, sebelumnya sudah ku lumuri Asam jawa, sehingga rasanya pasti sedikit asam. Namun si Kuku menjawab bahwa rasa kacang itu sungguh lezat, dan tidak merasakan apapun. Nah, dari situ seharusnya kalian sudah faham bukan? Aku sudah membantu masalah kalian dalam mencari pencurinya, namun masalah lainya, itu sudah bukan urusan ku. Ingat..!! Kalian itu keluarga. Sebesar apapun kesalahan saudara kalian, maka jangan pelit untuk memberi ma'af ketika mereka menyatakan menyesal dan meminta kesempatan. sampai jumpa lagi, aku mau cari makan dulu'. Kata si kancil sambil berlalu.

Setelah mendengar penjelasan si Kancil, tentu si Kuku menjadi sangat malu. Dan dia akhirnya menyatakan menyesal dan meminta ma'af kepada saudara-saudaranya. Dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Sedangkan saudaranya akhirnya juga mema'afkan Kuku. Mereka ingat pada nasehat si Kancil, Bahwa sebuah keluarga tetaplah keluarga, meski terkadang mereka melakukan kesalahan, namun tidak ada salahnya memberi ma'af ketika mereka meminta ma'af dan menyatakan penyesalanya. Akhirnya setelah kejadian itu, empat bersaudara itu kembali hidup rukun, saling membantu, bergotong royong, dan menjadi lebih kompak.


Story by; Muhammad Rifai




Hikmah yang dapat dipetik: Adakalanya kita berbohong demi menutupi kesalahan sendiri dan menuding orang lain hanya demi lepas dari kesalahan. Namun harusnya kita juga sadar, Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah. Namun hanya menunda masalah tersebut hingga malah menjadi lebih besar lagi dikemudian hari. Dan sebuah keluarga, adalah tempat dimana kita bisa berbagi serta meminta pertolongan. Maka sebesar apapun kesalahan, jika itu masih saudaramu, maka ma'afkanlah ketika mereka meminta ma'af dan menyadari kesalahanya. Karena keluarga, adalah satu-satunya tempat mu untuk pulang. :)

PUTERI NEGERI AWAN(4): Si Gembala Awan

Tongkat Gembala Awan - Api berkobar menunjukan keganasanya. Angin yang berhembus kencang, membuat nyala api semakin membesar. Semakin lama semakin melebar keseluruh penjuru hutan. Membakar dan menghanguskan setiap yang dia lewati. Semak, rumput, pohon, bahkan hewan-hewan yang berlari ketakutan.

Melihat situasi yang semakin genting itu, sang puteri menjadi gelisah dan tidak sabar.
"Garudayana, cepat katakan cara apa yang bisa kita lakukan untuk menolong hutan dan seluruh penghuninya dari kehancuran ini..? Jika kita tak segera bertindak, aku takut semua akan terlambat". Kata puteri Intan rasari.

"Ma'afkan hamba tuan puteri, tapi hamba tidak bisa melakukan apapun. Melainkan tuan peterilah yang bisa menyelamatkan mereka". Jawab Garudayana.


Mendengar jawaban Garudayana tersebut, malah membuat puteri Intan rasari menjadi semakin bingung. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksut oleh Garudayana. Bagaimana dia bisa membantu..? Sedangkan dia sendiri tidak bisa melakukan apapun untuk bisa memadamkan amukan api yang menyala-nyala dengan ganasnya.

"Apa maksut mu Garudayana..? Kau malah membuat ku semakin bingung. Bagaimana aku bisa membantu mereka, jika aku saja tak bisa melakukan apapun untuk bisa memadamkan api ini..". Tanya puteri Intan rasari panik.
"Ma'af tuan puteri, bukankah tuan puteri memiliki sebuah tongkat kecil yang diberikan oleh paduka raja..?". Tanya Garudayana.

"Iya.. Lalu..?". Puteri Intan balik bertanya.
"Tongkat kecil yang tuan puteri bawa itu, adalah salah satu pusaka milik Negeri Atas Awan. Tongkat itu bukan tongkat biasa, selain bisa berubah menjadi besar dan bergerak sesuai perintah pemiliknya, tongkat itu juga sering disebut Tongkat Gembala Awan". Kata Garudayana.

"Tongkat Gembala Awan..? Aku masih belum mengerti Garudayana.. Intinya saja, bagaimana aku bisa menyelamatkan seluruh isi hutan ini dengan tongkat ajaib yang aku bawa sebagaimana perkataan mu". Kata Puteri Intan rasari.
"Caranya mudah tuan puteri. Tuan puteri lemparkan saja tongkat itu ke udara. Lalu perintahkan untuk menggiring awan hujan agar datang kemari". Kata Garudayana menjelaskan.

Karena tak punya banyak waktu untuk memahami penjelasan Garudayana yang masih membuatnya bingung, sang puteri langsung saja melakukan seperti apa yang dijelaskan oleh Garudayana. Dia lalu mengambil tongkat kecil dari sakunya, lalu melemparkanya ke udara.
"Hai tongkat gembala awan, aku minta bantuan mu. Giring dan bawa awan hujan datang ke sini untuk memadamkan api yang membakar hutan ini''. Perintah puteri Intan rasari. Lalu, keajaiban terjadi.

Tongkat itu melesat ke langit, kemudian berubah menjadi tongkat emas raksasa yang sangat besar. Tongkat itu melesat ke angkasa lalu menghilng dikejauhan. Tak berapa lama, dari kejauhan tampak mendung hitam bergumpal. Tapi bukan mendung biasa. Mendung itu tampak seperti sosok ratusan kuda yang tengah berlari dan saling mendahului satu sama lain. Sesekali kilat dan suara guntur mengiringi, seperti gembala yang mengayunkan cambuk untuk menggiring hewan gembalanya.

Tak butuh waktu lama, mendung hitam menutupi seluruh hutan. Lalu hujan deras turun, sangat lebat. Api yang tadinya berkobar hebat kini perlahan mulai padam. Bahkan saking lebatnya hujan yang turun, api padam dengan sangat cepat. Dan setelah semua api padam, secara ajaib mendung yang hitam tadi memudar, lalu hilang tanpa bekas. Tak berapa lama, tongkat yang dilempar oleh Puteri Intan rasari terbang kembali menuju sang puteri dengan ukuran semula.

Akhirnya, berkat bantuan sang puteri, hutan yang nyaris musnah itu bisa terselamatkan. Meski banyak korban jiwa yang tak lagi tertolong. Tapi paling tidak, bencana besar yang mengancam hutan itu bisa dihentikan. Karena kejadian tersebut, membuat sang puteri semakin yakin, bahwa dia memang punya tugas untuk menghentikan kekejaman raja Gembalageni. Dia bertekad untuk menghentikan raja tersebut, agar kejadian hari ini, tidak terulang lagi dikemudian hari.


PUTERI INTAN RASARI

CHAP 1: Kangsawangsa Manusia Kepala Domba (End)

Next chapter: Negeri Bayangan

Story by: Muhammad Rifai

PUTERI NEGERI AWAN(3): Lautan Api dan Penguasa Udara

Lautan Api dan Penguasa Udara - Ayam berkokok memanggil sang fajar. Memaksa sang surya terbangun dari peraduanya, kemudian mengintip dunia dari balik bukit. Tetesan embun bening masih tersisa di tiap kelopak bunga dan pucuk dedaunan, ditambah sedikit kabut pagi yang menciptakan pemandangan indah. Bukti lukisan sang kuasa yang tak tertandingi.


Meski hari masih cukup pagi, sudah terlihat dua sosok yang tengah berjalan menyusuri hutan. Sosok mereka tersamarkan oleh rimbunya semak dan dedaunan, berjalan dengan hati-hati namun dengan langkah pasti. Mereka adalah tokoh utama kita, siapa lagi kalau bukan sang puteri negeri awan yang cantik dan baik hati, Puteri Intan Rasari. Dan sahabat barunya, yaitu Melati Wangi.


Sebisa mungkin mereka menyembunyikan diri dari anak buah Gembalgeni, karena jika terjadi pertarungan, niscaya akan banyak korban terluka yang seharusnya tidak perlu. Lagipula, anak buah Gembalageni hanya manusia biasa, sudah jelas mereka tak akan mampu melawan puteri Intan Rasari yang dibantu oleh Garudayana, pengawal ajaibnya yang juga dijuluki sebagai Panglima Angkasa.


Mereka berdua terus menyusuri hutan, mengambil jalan-jalan sempit dan menghindari jalan besar yang terlalu ramai. Tak terasa, waktu berjalan cukup cepat. Suasana hutan yang rimbun dan agak gelap, membuat mereka berdua kesusahan dalam menebak waktu. Dan tanpa mereka sadari, sang surya sudah bertengger tepat di ujung langit dengan gagahnya. Dan satu-satunya yang menjadi alaram alami mereka adalah... Suara perut mereka yang ternyata sudah mulai keroncongan, yang menandakan sudah waktunya bagi mereka untuk istirahat sejenak... ^_^



Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk istirahat di tepi sebuah sungai kecil ditengah hutan. Air sungai itu cukup jernih dengan bebatuan dan pasir halus di dasar sungai. Pantulan cahaya matahari yang silau, menciptakan pemandangan indah bak sungai mutiara yang berkerlap-kerlip penuh kemilau. "Sungguh indah sekali alam manusia ini.. Aku jadi betah dan ingin berlama-lama berada disini..". Kata puteri Intan Rasari dalam hati.



Akhirnya untuk menu makan siang mereka, Melati Wangi mencari jamur dan umbi dihutan, lalu mereka bakar untuk dimakan bersama. Namun, itulah satu-satunya kesalahan yang tidak mereka sadari. Asap dari api yang mereka buat di dalam hutan, malah menjadi tanda bagi para anak buah Gembalageni hingga bisa menemukan keberadaan mereka. Ketika mereka tengah sedang asik-asiknya memakan umbi dan jamur yang baru saja matang, tiba-tiba puluhan anak buah gembala geni muncul dan mengepung mereka dari segala arah.


Melati Wangi tentu sangat ketakutan melihat hal tersebut. Karena dengan orang sebanyak itu, mampukan Puteri Intan Rasari mengalahkan mereka..? Namun.. Sikap berbeda ditunjukan oleh Puteri Intan Rasari. Dia tetap tenang dan tidak tampak kecemasan apapun pada raut wajahnya. Bahkan sesekali masih tersungging senyum ramah dari bibirnya yang tipis dan manis. Hingga membuat siapa saja pasti gemas dibuatnya.


"Sebaiknya kalian pulang saja.. Urungkan niat kalian untuk menangkap kami jika kalian tak ingin terluka". Kata Puteri Intan Rasari mencoba bicara baik-baik.
Terlihat rasa ragu yang terpancar di wajah anak buah Gembalageni. Antara takut dan serba salah. Sebenarnya mereka juga cukup takut, namun karena itu adalah perintah raja Gembalageni, mau tak mau mereka harus melakukanya jika tak ingin mendapat hukuman yang berat. Di tengah-tengah keraguan mereka, tiba-tiba muncul asap hitam yang menggumpal lalu membentuk sebuah sosok, dialah Kangsawangsa.

"Woi.. !! Apa yang kalian lakukan..?? Jangan hanya diam seperti patung..!! Cepat, serang dan tangkap kedua anak itu. Hidup atau mati..!!". Teriak Kangsawangsa memberi perintah. Mendengar perintah itu, para anak buah Gembalageni akhirnya maju serentak dengan berbagai macam senjata yang mereka bawa. Melati Wangi yang ketakutan, bersembunyi dibelakang Puteri Intan Rasari yang tetap berdiri tenang tanpa gentar. Lalu, diapun mengambil burung kertas dari sakunya dan dilemparkan ke udara.


"Garudayana, munculah..!! Aku butuh bantuan mu..". Teriak Puteri Intan Rasari. Sesaat kemudian.. Cahaya putih yang menyilaukan mata memenuhi tempat itu. Dan burung kertas itu secara ajaib berubah menjadi garuda raksasa yang bernama Garudayana. Bulunya berwarna emas.. Matanya berwarna merah menyala, membuatnya terlihat sangat gagah, dan musuh manapun yang melihatnya pasti gemetar. Dia terbang tinggi menembus awan dengan kibasan sayapnya yang kuat, lalu menukik tajam ke bawah dengan sangat cepat.


"Garudayana.. Cukup lumpuhkan saja mereka, usahakan jangan membuat mereka terluka parah atau membunuhnya". Pesan Puteri Intan Rasari.
"Laksanakan titah tuan puteri..". Jawab Garudayana.
Garudayana lalu terbang dengan lincahnya, sangat cepat. Dia membuat sebuah pusaran angin yang kuat yang membuat semua orang terpental. Bahkan sebagian besar dari mereka sudah terpental duluan hanya dengan kibasan sayapnya. Untungnya.. Melati wangi bersama dengan puteri Intan Rasari. Sang puteri membuat sebuah lingkaran dengan mantra pelindung, agar mereka berdua tak terkena efek dari amukan Garudayana yang dahsyat.


Tak butuh waktu lama, semua musuh-musuh yang ada sudah tumbang. Hanya tinggal panglima Kangsawangsa yang memang memiliki kesaktian mumpuni yang masih bertahan. Dia berdiri dengan congkak sambil melipat kedua tanganya yang dipenuhi cakar dan bulu-bulu lebat. Kangsawangsa, adalah manusia berkepala domba. Dia cukup sakti, dan mampu menyemburkan api dari nafasnya. Sehingga dia dikenal juga dengan iblis api. Dia adalah salah satu dari enam panglima terkuat yang dimiliki oleh Raja Gembalageni.


"Hmm.. Ternyata kabar yang ku dengar dari raja ku memang benar adanya. Kau cukup kuat Garudayana. Tak butuh waktu lama bagimu untuk mengalahkan kroco-kroco ini, bahkan mereka hanya pingsan tanpa mengalami luka parah. Aku salut pada mu..
Ku akui, kau cukup pantas menyandang gelar Panglima Angkasa. Tapi... Aku mengakui kehebatan mu bukan karena aku takut pada mu, tapi agar kau bisa mati dengan bangga ketika aku nanti mengalahkan mu..hahahahaha". Kata Kangsawangsa dengan sombongnya.


Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Kangsawangsa melemparkan Gada pada Garudayana. Lemparan yang sangat kuat, sehingga gada itu melesat sangat cepat dan tak mungkin dilihat oleh mata orang biasa. Tapi Garudayana memiliki penglihatan yang puluhan kali lebih tajam dari mata manusia biasa, dengan mudahnya dia menghindari serangan itu. Dan serangan itu meleset menghantam sebuah bukit batu, dan bukit itupun menjadi hancur berantakan diiringi suara dentuman yang cukup keras.


Kangsawangsa sedikit terkejut, ternyata Garudayana mampu menghindari seranganya yang cukup tiba-tiba itu. Dia lalu bersiul, dan senjata gada yang tadi dia lempar secara ajaib kembali padanya. Garudayana tidak tinggal diam, dia membalas serangan Kangsawangsa dengan cakaran dan cabikan paruhnya yang tajam dan keras bagai baja. Pertarungan berlangsung cukup sengit. Garudayana yang mendapat julukan Panglima Angkasa terbang dengan gagah menguasai langit sembari menyambar, mencakar, dan mencabik.



Sedangkan Kangsawangsa yang dikenal sebagak Iblis Api, berusaha menyerang dengan melempar Gada atau sesekali menyemburkan nafas apinya. Namun selalu bisa ditangkal dengan hembusan angin dari kepakan sayap Garudayana yang cukup kuat. Sehingga nafas api yang dimiliki Kangsawangsa, tak betkutik dihadapan Garudayana. Setelah bertarung dengan sengit cukup lama, akhirnya membuat Kangsawangsa terluka dan mulai terdesak.


"Ku akui.. Baru kali ini ada lawan yang sekuat diri mu Garudayana. Dan baru kali ini pula aku bisa terluka separah ini. Mungkin.. Ajal ku sudah cukup dekat.. Tapi aku tak akan menyerah. Jika aku mati, aku tak mau mati sendiri. Mari, kita mati dan hangus bersama seluruh isi hutan ini.. Dalam Lautan Api.. Huuuuuuuuhhaaaaaaahhhhhhhrrrrgggggghhh...". Kata Kangsawangsa sembari menjerit keras.


Tubuhnya bersinar cukup terang.. Lalu, tiba-tiba keluar ledakan api bagai gelombang tsunami yang menyapu area hutan yang luas. Ternyata.. Kangsawangsa sudah putus asa untuk menang. Sehingga dengan semua sisa kekuatan yang ada, dia mengeluarkan mantra terlarang.."Segoro Geni". Sihir ini akan membakar apa saja yang ada di sekitarnya dengan jangkauan yang sangat luas. Namun sebagai gantinya, orang yang menggunakanya harus mengorbankan nyawanya dan ikut hangus menjadi debu.


Hutanpun terbakar.. Hutan lebat yang asalnya hijau, kini berubah menjadi lautan api. Untungnya Melati wangi dan puteri Intan rasari selamat tanpa terluka berkat mantera pelindung sang puteri. Garudayana langsung menyambar mereka dan dibawa terbang ke angkasa. Kini.. Hutan telah berkobar. Bagai lautan api yang bergolak, dengan asap hitam menggumpal menutup langit.


Langit yang cerah dan biru kini berubah menjadi hitam pekat, gelap laksana malam tanpa ujung. Burung-burung terbang tak tentu arah. Hewan-hewan berlari menjauh dari api, tapi... Kebanyakan dari mereka tak tertolong. Hangus terbakar dalam bungkusan api tanpa ampun. Trenyuh.. Puteri Intan rasari melihat dengan tatapan nanar. Dia ingin sekali menolong, namun apa yang bisa dia lakukan..??


Puteri Intan rasari tak memiliki sihir untuk memadamkan api, ataupun sihir mendatangkan hujan. Garudayana yang membawa mereka di atas punggungnya, merasakan kegelisahan tuanya.
"Paduka tak usah risau puteri, hamba memiliki rencana agar kita bisa membantu menyelamatkan mereka.. Percayalah pada hamba". Kata Garudayana.


Mendengar itu, wajah puteri Intan rasari menjadi berbinar. Senyumnya kembali muncul karena harapan yang dijanjikan oleh Panglima Angkasa, Garudayana. Namun, kira-kira rencana apakah yang dimiliki Panglima Angkasa untuk menaklukan lautan api ini..? Kita tunggu saja pada kisah lain, di waktu yang lain... ^_^


Bersambung



Story By: Muhammad Rifai

Dongeng KANCIL dan KAMBING Bodoh

Dongeng Kancil Terbaru - Di bagian hutan Eutopia bagian timur, hiduplah sekelompok kambing. Mereka dipimpin oleh tetua kambing yang cukup bijak. Sang tetua memiliki seorang anak, dia adalah pewaris tunggal yang akan menggantikan ayahnya jika kelak ayahnya wafat. Namun sifat si anak sunguh bertolak belakang dengan ayahnya. Dia cukup sombong dan suka memamerkan kemampuanya di hadapan rakyatnya. Tujuanya bukan tidak lain adalah agar dia dipuji dan dihormati.

Sang tetua kambing bersahabat baik dengan si kancil. Sang tetua sadar bahwa sifat anaknya tidak baik, sehingga itu membuatnya sangat sedih dan juga hawatir. Anaknya sebenarnya sangat bodoh dan ceroboh, dan hal tersebut diperparah dengan kesombonganya yang menjulang ke langit. Sang tetua tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menyadarkan anaknya. Hingga pada suatu hari, dia meminta si kancil untuk datang dan mencoba bertanya solusi untuk masalahnya.

Mendengar penjelasan tetua kambing, si kancil merasa ikut prihatin. Dan dengan senang hati dia akan memikirkan cara untuk membantu menyelesaikan masalah tetua kambing. Terlihat si kancil termenung sejenak. Dia mencoba mencari solusi apa yang tepat untuk menyadarkan anak tetua kambing yang sombong dan sok pintar itu. Lalu si kancil menyadari sesuatu, bahwa anak tetua kambing itu sebenarnya cukup bodoh. Namun karena sifat sombongnya, dia berlagak sok pintar. Gabungan dari sifat sombong dan bodoh, adalah kecerobohan yang membuatnya mudah dijebak. Sehingga kelak bisa membuat anak itu menemui celaka.

Tak lama kemudian, terlihat wajah kancil yang tersenyum. Sepertinya dia sudah menemukan ide untuk menyelesaikan masalah itu. Lalu diapun menceritakan rencananya pada tetua kambing dan berharap tetua mau membantu utuk membuat rencana itu berhasil. Dan ternyata, tetua kambing tidak keberatan dan bahkan dia cukup mendukung rencana si kancil. "Sepertinya cara mu itu lebih baik demi masa depanya". Kata tetua kambing.

"Di manakah biasanya anak mu berada?". Tanya kancil.
"Kau cari saja di padang rumput pinggir sungai, dia biasanya bermain-main di situ sambil menggangu kambing-kambing yang lemah". Jawab tetua kambing.
"Baiklah kawan, aku akan ke sana untuk menemuinya. Ingat rencana kita, dan do'akan semoga aku berhasil kali ini". Kata kancil kemudian pamit undur diri.

Akhirnya, si kancil pergi ke padang rumput untuk menemui anak tetua kambing. Setelah sampai di sana, kancil melihat anak tetua kambing itu tengah berdiri dengan congak di atas sebuah batu besar. Lalu banyak para kambing yang berkerumun di sekeliling batu tersebut. Sepertinya si anak tetua kambing itu tengah bercerita tentang kehebatanya, tentunya dengan dibumbui beberapa kebohongan dengan cerita yang dilebih-lebihkan.

Si kancil kemudian mencoba berbaur dengan mereka. Dia memperhatikan sekitar seperti ada yang dia tunggu. Benar saja. Tak berapa lama kemudian, datang seekor monyet dan juga seekor tupai. Mereka sepertinya tengah membawa sesuatu yang dibungkus dan dipangul di punggung mereka.
"Permisi.. apakah kami boleh bertanya? Kami butuh pertolongan". Kata monyet dan tupai. Para kambing yang mendengar ada yang bertanya, segera memalingkan wajah mereka ke arah monyet dan tupai.

"Kalin mencari siapa? Dan apa yang bisa kami bantu?". Tanya seekor kambing.
"Begini.. kami sedang mencari tetua yang bijak untuk membantu menyelesakan masalah kami". Kata tupai.
"Memangnya apa masalah kalian,". Tanya kambing yang lain.
"Kami berniat mau bertukar buah. Si monyet ini memiliki enam buah pisang. Dan aku berniat menkarnya dengan buah cery milik ku. Setiap satu buah pisang, si monyet memita enam buah ceri. Jadi aku tak tahu berapa buah cery yang harus aku berikan padanya untuk 6 pisang yang dia punya, karena kami berdua sama-sama bodoh dan tidak pandai berhitung". Cerita tupai.

Mendengar hal itu, ada beberapa kambing maju dan mencoba mau membantu. Karena di antara para kambing, beberapa ada yang bisa berhitung meski jumlahnya sedikit. Dan kebanyakan dari para kambing adalah bodoh dan tidak tahu apa-apa. Namun sebelum mereka maju, anak tetua kambing segera melompat dari atas batu dan maju dengan percaya diri. "Kalian tidak salah datang kemari dan beruntung sekali aku di sini, karena akulah kambing yang paling bijak dan pintar di sini". Kata anak tetua kambing dengan penuh percaya diri.

Melihat anak tetua kambing sudah maju, para kambing yang lain mengurungkan niat mereka dan tetap diam di tempat. Karena jika mereka menggangu apa yang dilakukan anak tetua kambing dan membuatnya marah, salah-salah mereka bisa celaka. "Lalu.. apa yang ingin kau tanyakan pada si bijak dan pintar ini?" Tanya anak tetua kambing.
"Begini kambing yang bijak, seperti yang sudah diceritakan tupai sahabat ku tadi. Aku memiliki 6 pisang, dan dia mau menukar pisang ku dengan buah cery miliknya. Tapi aku meminta 6 buah ceri untuk di tukar dengan satu buah pisang. Jadi berapa buah ceri yang harus dia berikan untuk 6 pisang yang aku miliki?". Tanya monyet.

"Ah.. itu mudah.. jawabanya adalah 40 buah ceri. Karena itu sama saja 6x6 maka hasilnya adalah 40". Kata anak tetua kambing dengan yakinya. Mendengar itu, beberapa kambing yang bisa berhitung kaget. Karena mereka tahu jika jawaban itu salah. Namun mereka tak berani mencampuri urusan anak tetua kambing. Sehingga tidak ada satupun kambing yang berani membantahnya. Namun tiba-tiba si kancil maju mendekat. "Ma'af kawan.. bolehkah aku ikut membantu. Jawaban yang diberikan oleh kambing ini salah. Yang benar jawabanya adalah 36 buah cery. Karena 6x6 itu jumlahnya 36, bukan 40". Kata kancil. Melihat kancil yang tiba-tiba maju dan muncul entah dari mana, membuat para kambing kaget. Mereka hawatir si kancil akan celaka karena telah membuat si anak tetua marah. Si anak tetua yang mendengar jawaban kancil, kontan saja geram. Baru kali ini ada hewan lain yang berani membantahnya dan bahkan mengatakan bahwa dia salah.

"Hai hewan kerdil, siapa kau? Berani-beraninya hewan bodoh seperti mu mengatakan bahwa aku salah? Lihat saja, tak ada yang membantah jawaban ku kecuali kamu. Itu berarti jawaban ku benar dan kamu yang salah!!". Kata anak tetua kambing dengan geram.
"Bukan aku yang salah.. tapi jawaban mu yang salah. 6x6 itu jumlahnya 36". Kata kancil tetap tak bergeming.
"Wah.. kamu memang tidak bisa diajak halus ya? Baiklah.. hai kalian, menurut kalian, mana jawaban yang benar? Jawaban ku atau jawaban si kerdil ini?".tanya anak tetua kambing pada kaming-kaming lain.

Namun para kabing diam saja tidak ada yang berani menjawab. Sebagian besar memang karena mereka tidak bisa berhitung, dansebagian yang lain memang tidak mau celaka jika membantah anak tetua kambing. "Nah.. kau lihat sendiri? Mereka semua diam. Itu berarti jawaban ku yang benar". Kata anak tetua kambing.
"Oh.. tidak bisa.. tetap jawaban ku yang benar dan kamu yang salah". Kata kancil ngeyel.
"Hahaha.. hewan bodoh masih juga ngeyel. Gak mau ngaku kalau kamu salah. Baiklah.. untuk menentukan siap yang benar, ayo kita temui ayah ku. Dia adalah tetua di sini. Dan dia pasti tahu bahwa aku benar dan kamu salah..". Kata anak tetua.
"Tidak mungkin.. tetap kamu yang salah..". Jawab kancil coba memancing emosi si anak tetua.
"Kamu masih juga ngotot.. sudah jelas jawaban ku pasti benar karena aku kambing yang paling bijak dan pintar disini..". Kata anak tetua mulai terpancing.
"Lalu.. bagaimana jika ternyata jawaba mu salah,". Kancil masih memancing.
"Tidak akan salah.. aku yakin.. jika memang nanti ternyata jawaba ku terbukti salah.. aku akan berenang ke seberang lewat sungai yang penuh buaya ini". Kata anak tetua dengan sombongnya.
"Hmm.. baiklah.. kalau begitu, ayo kita temui saja ayah mu". Ajak kancil.

Akhirnya.. mereka bersama-sama menemui tetua mereka. Dan meminta keputusan mana di antara dua jawaban tersebut yang benar. Para kambing yang bisa berhitung, sudah yakin pasti tetua mereka akan menjawab bahwa jawaban kancil yang benar. Namun di luar dugaan, ternyata si tetua menyatakan bahwa anakyayang benar sedangkan si kancil yang salah. Dan sebagai hukuman, si kancil harus tinggal di tempat itu selama satu miggu dan membantu membersihkan tempat tinggal tetua sebagai pelayan. Mendengar keputusan itu, anak tetua itu tetawa terbahak-bahak. Berkali-kali dia berteriak bawha kancil itu bodoh dan idiot. Namun para kambing yang lain malah berfikir sebaliknya, mereka mulai tidak menykai tetua yang jelas-jelas membantu anaknya yang salah.

Setelah kejadian itu, sikap para kambing pada tetua dan anaknya menjadi berubah. Mereka mulai acuh tak acuh, dan dibelakang mereka mengunjing anak tetua kambing yang bodohnya bukan kepalang. Lambat laut, kabar tentang kebodohan anak tetua itu cepat tersebar. Dan akhirnya sampai pada telinga anak tetua. Mendengar hal itu, anak tetua itu menjadi marah. "Kurang ajar sekali mereka mengatai aku bodoh. Aku akan mengaduke ayah agar mereka semua di hukum". Kata anak tetua sambil berlalu.

Anak kambing yang bodoh dan sombong itu menghadap tetua dengan marah-marah. Dia menceritakan apa yang dia dengar tentan kabar yang mengatakan bahwa dia itu bodoh. Dia berharap, ayahnya akanmendukungnya dan memberi mereka hukuman yang berat. Namun di luar dugaanya, ternyata ayahnya malah membenarkan bahwa dia memang bodoh. Karena sebenarnya jawaban si kancil yang benar. Dan para kambing tahu hal itu, tapi mereka tidak berani membantah tetuanya. Sedangkan si kancil juga tahu bahwa dia benar, namun dia dengan ikhlas menerima hukuman meski dia tahu dia benar. "Jika memang si kancil yang benar, kenapa dia mau saja di hukum padahal dia benar?". Tanya anak tetua masih kurang yakin.
"Kalau tentang apa alasnya kenapa dia tetap mau di hukum meski dia salah, kamu bisa tanyakan sendiri padanya". Kata tetua.

Akhirnya anak itu pergi menemui kancil yang tengah membersihkan daun-daun kering. Dengan agak ragu dia lalu bertanya pada si kancil. "Hai kancil.. ayah kubilang bahwa sebenarnya jawaban mu yang benar, sedangkan jawban ku salah. Tapi kenapa kau mau saja di hukum meski kau merasa tidak bersalah?". Tanya anak tetua ingin tahu. Mendengar pertanyaan itu, si kancil tersenyum.
"Hai kawan.. ini semua adalah ide ku dengan bantuan ayah mu. Bahkan ayah mu rela dihina oleh rakyatnya demi menyadarkan mu. Jika kamu bertanya kenapa aku mau di hukum meski aku benar, dalah karena itu yang terbaik". Kat kancil.
?". Tanya anak tetua masih tidak mengerti.

"Bukankah lebih baik aku merelakan diri ku di hukum meski aku benar? Dari pada satu nyawa terbuang percuma karena kebodohan? Karena jika dia bisa hidup lebih lam, dia masih memiliki kesempatan untuk belajar agar kelak dia tidak celaka karena kebodohanya". Terang kancil. Mendengar jawaban kancil, anak tetua itu ingt pada janjinya jika dia yang salah maka dia akan menyeberangi sungai yang penuh dengan buaya. Menyadari hal itu, anak tetua merasa malu. Kini dia sadar, bahwa selama ini dia memang cukup bodoh. Namun dia berlagak sombong dan sok pintar karena tak ada satupun kambing yang berani membantahnya. Kini dia sadar, jika saja waktu itu bukan hanya sebuah rencana antara si kancil dan ayahnya, mungkin saat ini dia sudah mati dimangsa para buaya. Dan mulai saat itu, anak tetua itu mulai menjadi lebih baik dan belajar dari semua kesalahan-kesalahanya. Dan beberapa tahun kemudian, dia diangkat menjadi tetua mengantikan ayahnya. Dan dia juga menjadi tetua yang bijak seperti ayahnya.

The End

Story By: Muhammad Rifai


Hikmah: Terkadang, tak selamanya yang benar itu harus menang. Karena ada kalanya kebenaran itu harus mengalah demi tercapainya tujuan yang lebih baik di masa depan.

Fabel KANCIL, SINGA dan TIKUS

Fabel Kancil, Singa, dan Tikus - Di daratan Eutopia, ada salah satu hewan yang dijuluki juga sebagai raja hutan selain Harimau. Dia adalah sang Singa. Namun singa lebih senang hidup di padang rumput dengan alam yang lebih terbuka. Dia selalu menjaga wilayahnya dari para hewan yang ingin berbuat onar di daerah kekuasaanya.

Sebagaimana si Harimau, singa juga memiliki sifat yang sombong sebagaimana seorang raja. Dia cukup angkuh dan merasa tidak terkalahkan. Bahkan dia sering memandang rendah hewan yang lebih lemah darinya. Si kancil pernah beberapa kali bertemu dengan singa, namun dia bisa bersembunyi untuk menghindar. Berbeda dengan harimau, sifat singa sedikit lebih tenang. Bahkan terkesan cukup malas. Hari-harinya selalu di isi dengan tidur. Dia hanya berburu ketika perutnya sedang lapar saja.



Pada suatu hari ketika si singa tengah tertidur nyenyak, ada seekor tikus yang tidak sengaja tersesat ke sarangnya. Tikus itu tanpa sengaja membangunkan singa yang sedang tertidur itu. Kontan saja singa yanf merasa terusik itu sangat marah dan mengaum dengan keras. Auman singa cukup menakutkan bagi setiap yang mendengar. Bahkan aumanya dapat di dengar hingga jarak cukup jauh di seluruh penjuru hutan.

Melihat singa yang marah, tikus yang malang itu merasa sangat ketakutan. Dia merasa kini ajalnya mungkin akan datang karena di makan oleh singa. Namun tiba-tiba saja si kancil datang, dia mencoba menengahi untuk menenangkan singa tersebut.
"Eh.. singa.. tunggu dulu. Jika kau memakan tikus malang ini, maka martabat mu sebagai raja hutan akan tercoreng. Kau akan sangat rugi. Selain tidak kenyang.. kau juga akan di kenal sebagai hewan rakus yang bahkan memakan tikus yang kurang bergizi". Kata kancil.
"Apa maksut mu cil..? Apa kau meledek ku?". Kata singa masih geram.
"Bukan itu masalahnya.. aku hanya ingin menyelamatkan harga diri mu. Jika kau memakan tikus ini, maka kau tak lebih dari hewan berkuku dengan taring besar.. namun selera makan mu kacangan dan tak bermutu. Bayangkan saja jika seluruh penghuni hutan tahu, pasti mereka akan menertawakan mu". Jelas kancil.

"Lalu.. apa yang harus aku lakukan? Tikus ini sudah mengganggu tidur ku". Tanya singa lagi.
"Sebagai raja.. kau harus belajar untuk mengampuni. Biarkan dia pergi. Mungkin saja kelak dia justru bisa menolong mu ketika kau kesusahan". Jawab kancil.
"Hahahahaha... aku? Kesusahan? Lalu ditolong tikus? Mana mungkin.?? Aku ini raja hutan yang paling kuat. Bahkan harimau saja tak sebanding. Tak ada yang berani macam-macam dengan ku. Itu mustahil.. hahahaha..". Kata singa dengan sombongnya.
"Baiklah.. mau mustahil atau tidak, roda nasib tak ada yang tahu. Jadi bagaimana singa? Apa kau mau melepaskanya?". Tanya kancil lagi.
"Baiklah.. kali ini dia aku lepaskan. Tapi bukan karena alasan yang kau sebutkan.. tapi memang karena aku masih kenyang.. jadi, cepat pergi sebelum aku berubah fikiran..". Kata singa sambil kembali memejamkan mata untuk melanjutkan tidurnya. Sementara kancil dan tikus segera pergi dari tempat itu.

Beberapa bulan berlalu setelah kejadian itu. Hingga pada suatu hari, singa di timpa musibah. Ketika tengah mencari mangsa, singa terjerat oleh jaring yang di pasang pemburu. Dia sudah berusaha lepas, tapi tak berhasil. Jaring itu dirajut dengan tali yang cukup kuat. Hingga dua hari lamanya singa terjebak. Tanpa makan dan minum, sehingga membuat singa lemas kehabisan tenaga. Bahkan untuk mengaum saja dia sudah tidak sanggup. Namun takdir sepertinya masih berpihak pada si singa. Tikus yang dulu dia lepaskan, tidak sengaja lewat tempat itu.

Melihat singa yang sekarat, tikus itu langsung berusaha menolongnya. Dia menggigit setiap tali jaring itu hingga putus. Setelah semua tali putus, singa itu akhirnya bisa bebas. Melihat bahwa nyawanya diselamatkan oleh seekor tikus yang dulu dia remehkan, membuat singa merasa malu. Kini dia belajar akan satu hal.. kemampuan itu tidak hanya dilihat dari penampilan luar saja. Singa merasa bersyukur, bahwa dulu dia mengambil keputusan yang benar dengan melepaskan si tikus. Andai saja dulu dia tidak melepaskan si tikus, niscaya nyawanya sudah tidak tertolong.

Singa mengucapkan terimakasih kepada tikus. Dia juga meminta ma'af jika dahulu dia menghina si tikus. Tikus itu hanya tersenym, karena dia sudah lama mema'afkan singa dan merasa tidak terjadi masalah. Sejak saat itu, tikus dan singa menjadi sahabat. Singa berjanji akan dengan senang hati membantu tikus ketika tikus dalam kesulitan. Sebagai wujut balas budi di hari itu.

Story by: Muhammad Rifai

Hikmah: Kemampuan seseorang, itu tidak dapat dinilai dari penampilanya saja. Terkadang orang yang kita anggap remeh, lebih hebat dari pada kita sendiri.

Dongeng Persahabatan Bangau dan Anjing

Dongeng Persahabatn Bangau dan Anjing - Bangau dan Anjing adalah sepasang sahabat. Mereka sudah kenal sejak lama. Banyak waktu yang mereka habiskan bersama, bahkan mereka juga saling menolong satu sama lain. Namun meski mereka sudah bersahabat cukup lama, ternyata si anjing tidak mau tahu dan mengerti kebiasaan sahabatnya. Sehingga hal tersebut sering menimbulkan masalah-masalah kecil di antara mereka. Meski akhirnya si bangau yang mengalah agar masalah tidak menjadi panjang.

Begitulah.. Dua sahabat itu mencoba mengatasi setiap masalah yang mereka hadapi. Kadang rukun, kadang ribut, dan baikan lagi. Namun kata orang, kesabaran ada batasnya. Dan kali ini kesabaran si bangau sudah habis. Dia sudah cukup mengalah, tapi anjing tidak pernah mau tahu itu. Si bangau duduk di pinggir sungai, wajahnya termenung. Terlihat raut jengkel di wajahnya. Ternyata si kancil dari tadi memperhatikan tingkah laku si bangau. Kancil lalu menghampiri si bangau untuk mencoba menghibur.

"Ada apa bangau? Ada masalah lagi dengan si anjing?." tanya kancil.
"Haaahhh.. Iya cil.. Seperti biasa. Tapi kali ini aku sudah capek kalo harud ngalah terus. Si anjing juga tidak mau belajar dari masalah yang sudah-sudah." Jawab bangau.
"Memangya masalah kali ini apa? Sehingga kau bisa semarah itu?." Tanya kancil lagi.
"Kau tahu sendiri aku dan anjing sudah bersahabat cukup lama. Namun dia selalu saja memikirkan diri sendiri. Bahkan dia sama sekali acuh dengan kebiasaan sahabatnya."
" Kemarin siang, anjing mengundang ku untuk acara pesta ulang tahunya. Dia juga mengundang kawan-kawan anjing yang lain. Karena menghargai undanganya, aku sampai tidak mencari makan hari itu."


"Aku langsung datang ke rumahnya dengan perut kosong. Dan fikir ku, anjing akan menyediakan makanan khusus untuk ku."
"Tapi aku sangat kecewa.. Si anjing malah menyediakan sup, dengan wadah piring. Padahal dia tahu.. Aku tidak bisa makan sup karena paruh ku panjang dan lidah ku pendek." "Sedangkan anjing dengan acuh menghabiskan makananya hingga tak bersisa. Bahkan makanan ku akhirnya dia makan juga karena dikiranya aku tidak bisa menghabiskanya. Padahal perut ku sangat lapar, tapi aku tidak bisa makan." kata bangau mengakhiri ceritanya.



"Hmm.. Jadi intinya dia kurang peka dengan keadaan temanya? Sepertinya aku punya ide yang bisa membantu mu untuk menyadarkan si anjing.. Sini aku bisikan.. ." Kata kancil.
Akhirnya keesokan paginya, si bangau mengundang anjing untuk makan siang dirumahnya seperti saran yang dia dapat dari si kancil. Anjing yang terkenal cukup rakus, tentu saja sangat senang dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Wah.. Kebetulan aku sangat lapar. Aku akan makan sampai puas.. ." Fikir si anjing dalam hati. Dia berjalan dengan semangat menuju rumah si bangau.

Setibanya di rumah si bangau, dia disambut dengan ramah oleh si bangau. Dan dipersilahkan masuk untuk menunggu sebentar.
"Apa kau sudah lapar kawan?." Tanya bangau.
"Ya tentu saja.. Aku tadi langsung kemari tanpa sempat untuk sarapan. Cepat keluarkan makananya.. Aku sudah sangat lapar bangau..". Kata anjing dengan semangat.
"Baiklah.. Tunggu sebentar..". Kata bangau sembari masuk ke dapur. Beberapa saat kemudian, si bangau keluar dengan makanan. Dia membawa dua porsi makanan yang dia taruh di dalam wadah botol.

"Nah anjing sahabat ku.. Ayo kita makan sama-sama..". Kata bangau langsung makan dengan lahapnya. Dia tidak perduli pada tingkah laku si anjing yang sepertinya sedang kebingungan. Hingga beberapa saat kemudian, makanan si bangau sudah habis. Tapi dia melihat makanan si anjing masih utuh.
"Wah.. Apa kau tidak bisa menghabiskan makanan mu kawan? Apa kau sudah kenyang? Kalau begitu biar aku habiskan juga punya mu.. ." Kata bangau sambil mengambil makanan si anjing tanpa menunggu jawaban si anjing.

Merasa dirinya di hina, anjing langsung marah-marah. Dia mengumpat si bangau habis-habisan..
"Sahabat macam apa kau ini? Bagaimana bisa kau memberi ku makan dengan cara seperti ini? Bagaimana aku bisa kenyang kalau makan saja aku tidak bisa. Kau lihat..? Aku tidak punya paruh. Kenapa kau menghidangkan makanan di dalam botol. Mana bisa aku memakanya..?." Kata anjing penuh emosi.
"Hmm.. Jadi kamu kini sudah tahu pula bagaimana perasaan ku? Kemarin ketika di pesta mu, kau hidangkan sup di atas piring. Padahal kau tahu lidah ku tidak terlalu panjang untuk bisa makan sup. Kau kini tahu rasanya lapar? Seperti aku kemarin juga sama. Kini kau bilang aku bukan sahabat yang baik.. Lalu bagaimana dengan diri mu? Apa kau sudah merasa menjadi sahabat yang baik?." Jawab bangau.

Anjing terkejut mendengar jawaban si bangau. Kini dia tahu alasanya, kenapa beberapa hari ini si bangau marah padanya. Dan kini dia sadar, bagaimana perasaan si bangau. Sebagaimana yang dia rasakan kali ini. Si anjing terdiam. Dia merasa bersalah. Dan akhirnya, dia meminta ma'af pada si bangau atas semua perilakunya selama ini. Dia berjanji, mulai hari itu dia akan berusaha menjadi sahabat yang lebih baik. Yang mau mengerti dan juga saling mengerti. Si kancil yang melihat tingkah laku dua sahabat itu dari kejauhan, hanya bisa tersenyum lega karena kini semua masalah sudah terselesaikan dengan baik.

Story by: Muhammad Rifai

Hikmah: Terkadang kita terlalu egois dan memikirkan kesenangan sendiri tanpa berfikir akan perasaan orang lain. Kadang kita hanya mau terus-terusan di mengerti.. Tetapi kita sendiri acuh dan tidak mau belajar untuk saling mengerti.

Fabel Raja KATAK yang EGOIS

Fabel Raja Katak yang Egois - Disebuah kolam di tengah hutan, terdapat sebuah kerajaan katak. Kerajaan itu dipimpin oleh seekor katak yang cukup bijak. Namun sayangnya, raja katak hanya memiliki seorang anak sebagai pewaris. Namun sifat pangeran ini sangat berbeda jauh dengan sang raja. Dia hanya gemar berfoya-foya dan bersenang-senang saja.

Akhirnya, si raja wafat. Dan tahta secara otomatis diserahkan pada si pangeran. Dan kehidupan rakyat katak menjadi taruhan menuju kehancuran. Hingga pada suatu hari, si raja katak muda sedang berjalan-jalan dengan pengawalnya. Namun sial, di tengah jalan dia bertemu dengan ular yang sedang mencari mangsa. Hampir saja si raja muda itu disantap si ular. Namun si katak mencoba merayu dengan sebuah perjanjian yang cukup menarik minat si ular.



Isi perjanjian tersebut adalah.. Jika si ular mau membiarkan dia hidup, maka si ular akan di izinkan untuk memakan pengawal yang bersamanya. Dan jika si ular mau menjadi pengawal pengganti, maka si ular akan di jatah satu ekor katak setiap hari untuk dia santap. Mendengar tawaran yang cukup menarik itu, tentu saja si ular tidak menolak. Dia tidak harus repot mencari mangsa setiap hari. Hanya tinggal duduk didekat raja katak yang egois dan bodoh itu, lalu makanan akan datang sendiri.

Sejak hari itu, kehidupan rakyat kerajaan katak berubah menjadi bencana. Setiap hari para penduduk di tangkap satu persatu oleh pengawal kerajaan untuk dipersembahkan sebgai makanan ular. Hal tersebut membuat rakyat semakin tertekan. Banyak dari mereka melarikan diri di waktu malam untuk pergi meninggalkan kerajaan itu. Lambat laun, penduduk negeri katak semakin habis. Sebagian melarikan diri secara diam-diam, dan sebagian lagi karena sudah jadi mangsa si ular.

Si ular sadar, kini jumlah katak di kerajaan itu sudah semakin berkurang. Dia sering marah-marah pada si raja katak ketika jatah untuk makananya telat datang. Hingga beberapa hari kemudian, jumlah katak di kerajaan itu benar-benar sudah sangat sedikit. Hanya tinggal para pengawal dan sang raja katak saja. Bahkan untuk menyelamatkan diri sendiri, si raja rela membiarkan para pengawalnya menjadi santapan ular. Hingga akhirnya jumlah pengawal katak juga habis. Sebagian memutuskan untuk pergi meningglkan raja katak yang egois itu.

Dan pada akhirnya.. Sudah tidak ada lagi katak yang tersisa kecuali raja katak. Karena sudah tidak mendapat jatah makanan, akhirnya si ular membatalkan perjanjian antara dia dan raja katak. Dan karena perjanjian telah batal, maka kini si ular bebas mrmangsa raja katak yang egois itu. Dan kali ini raja katak itu tidak bisa lagi berkutik, menawar, atau mencari alasan. Karena sifat egoisnya.. Kini raja katak itu kehilangan semuanya. Kehilangan rakyatnya, tahtanya, harga dirinya, simpati dari pengikutnya, dan kini dia juga harus kehilangan nyawanya. Namun.. Setiap penyesalan selalu datang di akhir.

Story by: Muhammad Rifai

Hikmah: Sifat egois akan selalu memberi akibat buruk dibelakang hari. Bahkan bisa membuat kita kehilangan banyak hal. Termasuk keluarga dan juga teman.

Dongeng MUSANG dan AYAM

Dongeng Musang dan Ayam - Setelah pada dongeng yang lalu si kancil menolong ayam dari keganasan elang, para ayam mencari tempat baru untuk bersembunyi dari si elang. Di tempat baru mereka, mereka membangun sarang dan kembali bertelur untuk agar keturunan mereka bisa bertahan. Mereka sangat gembira atas keberhasilan mereka memberi pelajaran pada si elang. Dan tentu saja budi baik si kancil tidak akan mereka lupakan. Akhirnya, mereka mengutus salah satu ayam untuk mencari si kancil. Tujuanya untuk mengucapkan terimakasih serta mengundang kancil untuk acara pesta di rumah baru mereka.

Ketika diperjalanan, ayam itu bertemu dengan si musang. Mereka berdua sudah lama kenal dan menjadi sahabat dekat. Ayam itu lalu menemui musang yang sepertinya tengah sibuk melakukan sesuatu.
"Hai musang.. sedang apa kau disini? Sepertinya sibuk sekali... ." Tanya si ayam.
"Ooo.. ayam, rupanya kau. Ku kira siapa. Aku sedang menanam jagung. Tadi aku menemukan sebuah jagung. Dan burung merpati bilang.. lebih baik aku menanamnya agar kelak bisa bertambah banyak." Jawab musang.
"Wah.. jagung? Hmmm.. aku suka sekali jagung. Bolehkah aku ikut membantu menanamnya? Agar nanti jika sudah panen aku juga bisa ikut makan?." Tanya ayam itu.
"Tentu saja.. kenapa tidak? Kita kan sahabat..". Kata musang dengan ramah.



Akhirnya musang dan ayam menanam jagung itu bersama-sama. Setelah seharian bekerja, akhirnya mereka selesai juga. Setelah itu, si ayam meminta izin pada rubah untuk pergi menemui kancil. Dia mendapat tugas untuk mengundang kancil datang ke pesta rumah baru mereka bulan depan. So musang tidak keberatan. Mereka mengadakan perjanjian bahwa mereka akan menjaga kebun jagung itu bergantian selama tiga minggu. Begitu silih berganti hingga jagung itu siap di panen.

Waktu terus berlalu.. tak terasa sudah berjalan beberapa bulan, dan buah jagung sudah siap dipanen tidak lama lagi. Namun hari itu adalah waktu berganti untuk berjaga. Setelah si musang menjaga kebun itu selama tiga minggu, kini giliran si ayam yang harus menjaganya.
"Nah kawan.. kini giliran mu untuk berjaga. Aku akan pergi menemui keluarga ku untuk aku bawa ke sini. Kita akan makan jagung kita ini sama-sama. Jika sekiranya aku pergi terlalu lama dan kau tidak sabar menunggu, kau boleh memakan dulu bagian mu dan sisakan bagian ku.". Pesan si musang.
"Oke musang.. kamu tenang saja. Jagung ini akan aman bersama ku. Kau tak perlu hawatir." Kata ayam dengan yakin.

Setelah itu, si musang akhirnya pergi untuk menemui keluarganya. Dia berniat membawa semua keluarga dan teman-teman musangnya untuk memakan jagung hasil jerih payahnya selama kurang lebih tiga bulan. Karena perjalanan yang cukup jauh, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk musang dalam perjalanan pulang pergi. Dan ternyata, tak terass dia sudah pergi lebih dari tiga minggu. Si ayam yang menunggu di kebun jagung menjadi tidak sabar. Berbagai fikiran dan prasangka muncul dibenaknya.
"Bagaimana jika musang ternyata sudah mati dimakan harimau? Atau dia mati karena bertemu manusia?." Fikir ayam dalam hati. Hal tersebut membuat hati ayam menjadi was-was. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi senang sekali.

"Ah.. betapa bodohnya aku. Kenapa juga harus hawatir jika si musang mati? Itu malah bagus. Karena aku tak harus berbagi semua jagung ini dengan musang. Semua jagung ini kini menjadi milik ku sendiri.. hahahaha... ." Kata ayam dengan serakah. Ternyata, keserakahan membuat ayam lupa pada pesan musang. Dia ingin menguasai seluruh buah jagung itu sendiri. Dia juga memanggil kawan-kawanya untuk berpesta makan jagung bersama, dan mengakui bahwa semua jagung itu adalah hasil kerjanya sendiri. Pesta berlangsung cukup meriah. Para ayam makan hingga kenyang, dan semua buah jagung habis tak bersisa.

Namun ternyata, pada pagi harinya si musang datang bersama teman-temanya. Dia juga membawa serta si kancil. Ternyata si musang menyempatkan diri untuk mencari si kancil dan mengajaknya untuk makan jagung bersama, itulah sebabnya si musang datang terlambat. Namun betapa terkejutnya dia begitu melihat kebun jagungnya yang porak poranda. Semua rusak dan tak ada satupun buah tersisa.

Dia melihat si ayam yang tertidur di tempat itu. Ternyata si ayam bangun kesiangan setelah setelah semalam berpesta hingga larut. Dia bahkan tidak melihat kawan-kawanya yang sudah pulang ke sarang mereka. Musang lalu membangunkan si ayam dengan nada marah. Dia bertanya apa yang terjadi dengan kebun jagung mereka. Karena ketika terakhir kali ditinggalkan si musang, semua jagung-jagung itu sudah berisi. Si ayam yang kaget dan tidak mengiramusang akan datang, menjadi terkejut dan panik.

Dia beralasan, bahwa semua jagung-jagung mereka telah hancur dan gagal panen karena diserang hama. Namun si kancil yang secara kebetulan ada disitu, mencium adanya hal yang kurang beres. Dia lalu menelusur seluruh area kebun itu, dan dia menemukan banyak sekali kulit dan bekas tongkol jagung bertebaran. Melihat bukti tersebut, si ayam menjadi tidak bisa berkutik lagi. Dan akhirnya dia mengakui bahwa semua jagung telah dia makan bersama kawan-kawanya.

Tentu saja si musang menjadi tambah marah. Karena si ayam telah melanggar janji mereka tentang menyisakan bagian masing-masing. Hampir saja si musang menerkam si ayam. Namun dilerai oleh si kancil. Si kancil memberi solusi agar si ayam diberi waktu untuk mengganti jagung si musang. Dan karena musang menghormati si kancil, dia setuju. Dia memberi waktu dua bulan untuk ayam mengganti semua jagung bagian si musang. Agar cukup waktu bagi si ayam untuk menanam jagung yang lain.

Namun kesempatan itu malah disalah gunakan oleh si ayam. Bukanya dia menanam jagung, dia malah mengajak semua bangsa ayam untuk pindah dan lari. Si ayam terlalu malas untuk menanam jagung yang pada akhirnya dia tidak bisa memakan sendiri. Setelah waktu dua bulan habis, si musang berkunjung ke tempat ayam. Namun betapa marahnya dia ketika melihat tempat itu sudah kosong dan terbengkalai. Jangankan jagung, seekor ayam pun tak ada di tempat itu.

Dan sejak saat itu musang bersumpah.. dia dan keturunanya akan menjadikan bangsa ayam sebagai santapan pengganti jagung yang sudah direbut si ayam. Dan karena alasan itu pula, bangsa ayam memutuskan untuk tinggal dekat dengan manusia. Karena dengan mendekati manusia, mereka bisa sedikit aman dari ancaman musang yang hendak mmangsa mereka.


"Mungkin manusia juga akan memanfa'atkan kita. Dan akan menjadikan kita santapan. Namun tidak mengapa. Kita sudah terlalu banyak berbuat bodoh dan melakukan kesalahan. Karena kedalahan kita, kini bangsa kita dimusuhi oleh elang dan juga musang. Mereka tidak pandang bulu, baik kecil atau besar, akan mereka makan. Namun jika kita mendekati manusia, maka mereka mungkin hanya akan memangsa kita yang sudah besar. Dan membiarkan anak-anak kita tetap hidup. Itu harga yang cukup pantas yang harus kita bayar." Kata salah satu ayam dengan nada penyesalan.


Story by: Muhammad Rifai


Hikmah: Terkadang keserakahan bisa merubah seseorang. Sifat tamak dan serakah, sering membuat fikiran kita tertutup hingga melakukan tindakan bodoh yang kelak akan kita sesali.

Fabel KANCIL Menipu Burung ELANG

Fabel Kancil Menipu Burung Elang - Setelah pada cerita ayam jago dan burung elang yang lalu, kehidupan bangsa ayam menjadi tidak tenteram. Mereka selalu dilanda ketakutan karena terror para burung elang yang mengincar anak-anak mereka. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Sekuat apapun mereka berusaha, mereka tak mampu untuk mengalahkan burung elang. Lambat laun, anak-anak ayam mulai habis. Hanya tinggal beberapa ekor saja.

Tentu hal tersebut membuat bangsa ayam menjadi sangat risau. Karen jika kejadian ini terus berlanjut, bisa jadi keturunan mereka akan binasa dan jenis mereka akan punah. Akhirnya, para ayam mengadakan musyawarah. Mereka harus meminta bantuan segera. Tapi pada siapa? Salah satu ayam tiba-tiba berdiri ke tengah. Dia menyarankan agar meminta bantuan pada si kancil. Dia yakin si kancil memiliki solusi untuk masalah mereka.

Akhirnya salah satu ayam ditugaskan untuk menemui si kancil. Awalnya si kancil menolak. Karena masalah yang terjadi antara ayam dan elang, adalah murni karena kesalahan bangsa ayam. "Tolonglah cil.. Kami tahu itu salah kami. Kami rela jika memang harus menerima hukuman. Tapi yang jadi masalah adalah, anak-anak kami yang tidak tahu apa-apa yang jadi korban. Elang bahkan menghabiskan dan menangkap semua anak-anak kami hingga hanya tersisa beberapa ekor. Jika besok dia datang dan menangkap mereka lagi, bisa-bisa semua keturunan kami habis dan kami bisa punah. Tolonglah cil.. Kami hanya ingin kesempatan agar bangsa kami tidak punah". Kata ayam itu memelas.

Mendengar alasan si ayam, kancil merasa tersentuh. Jika di fikir-fikir dengan jernih, betul juga kata ayam. Elang sudah terlalu kelewatan. Yang memiliki masalah dengan bangsa elang adalah para ayam yang sudah dewasa, kenapa anak-anak yang menjadi korban. Dan lagi jika hal ini terus berlanjut, bisa jadi bangsa ayam akan benar-benar punah karena tidak memiliki kesempatan untuk memiliki keturunan. Dan akhirnya, kancil bersedia membntu.

"Baiklah kalau begitu, untuk kali ini saja demi anak-anak kalian yang tidak bersalah, aku akan membantu. Pulanglah..!! Besok ketika elang datang lagi ke tempat kalian, aku akan ke sana untuk berbicara denganya". Jawab kancil.
Mendengar hal itu, si ayam menjadi sangat gembira. Dia segera pulang menemui teman-temanya untuk menyampikan kabar bahagia itu. Para ayam menyambut kabar itu dengan suka cita. Ada secercah harapan yang mereka rasakan untuk bisa menyelamatkan anak-anak mereka.

Keesokan paginya.. Burung elang datang lagi ke sarang ayam. Seperti biasa, mereka mengincar anak-anak ayam yang masih tersisa di balik hiruk pukuk para ayam yang berlari panik. Namun ketika si elang tengah menemukan anak ayam yang menjadi targetnya, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
"Hai elang.. Tunggu sebentar, aku ingin bicara". Kata suara itu yang ternyata si kancil.

Melihat si kancil datang, si elang hinggap di atas sebuah batu dengan betolak pinggang. Dengan nada angkuh si elang menjawab..
"Ada apa cil.. Apa kau disewa oleh mereka untuk melawan ku? Hahahaha.. Mereka rupanya sudah terlalu putus asa hingga akal mereka hilang. Jika serigala saja tak mampu melawan ku, apalagi hewan mungil seperti mu?". Kata elang dengan nada sombong.
"Ah.. Tunggu sebentar elang.. Kau salah faham.. Aku kemari bukan untuk melawan mu. Tapi aku kesini sebagai wakil utusan dari bangsa ayam untuk melakukanbnegosiasi". Jawab kancil.


"Negosiasi? Apa maksut mu? Tak ada lagi yang perlu di negousasikan. Tujuan ku ke mari sudah jelas.. Dan sudah jelas pula tak ada yang mampu melawan, jadi untuk apa aku harus bernegosiasi? Apa untungnya bagi ku?". Tanya elang ketus.
"Ah.. Kau ini memang kuat elang, tapi otak mu sungguh bodoh". Kata kancil.
"Bodoh kata mu? Kau menantang ku?". Jawab elang emosi.
"Tunggu dulu.. Bukan begitu maksut ku. Begini lho.. Jika kamu memakan anak ayam langsung banyak dalam sekali waktu, maka kau akan rugi dikemudian hari. Karena sudah tidak ada lagi anak ayam yang bisa kau makan sebab sudah habis. Sedangkan para ayam juga butuh waktu untuk bertelur dan menetaskanya. Jadi, apa kau sudah sadar dengan apa yang ku maksut?". Tanya kancil.

Mendengar penjelasan kancil yang cukup masuk akal, akhirnya burung elang berfikir sesaat.
"Hmm.. Benar juga apa yang kau bilang. Jadi apa sebaiknya yang harus aku lakukan sekarang?". Tanya burung elang.
"Begini.. Aku sebagai wakil bangsa ayam diutus untuk melakukan satu perjanjian. Yaitu.. Para ayam akan menyediakan satu ekor anak ayam setiap hari untuk kau santap. Tapi ada syaratnya..". Kata kancil.
"Apa syaratnya..? ". Tanya elang.
"Bangsa ayam ingin meminjam bulu sayap mu yang kuat satu kali saja. Sebagai obat penasaran, bagaimana rasanya bisa terbang seperti burung elang yang gagah dan kuat seperti mu". Jawab kancil.

Merasa dirinya dipuji, si elang menjadi semakin besar kepala. Hingga dia tidak berfikir dua kali langsung saja menyanggupi syarat itu. Melihat si elang sudah setuju, sibkancil langsung memanggil seluruh ayam yang ada di kawasan itu. Mereka disuruh beramai-ramai untuk mencabut bulu-bulu si elang. Hingga akhirnya, semua bulu si elang habis dan botak. Elang tidak menyangka jika kejadianya akan jadi seperti ini. Dia sangat malu karena semua bulu-bulunya yang megah telah rontok, hilang tak tersisa.

Karena terlalu malu, elang langsung lari ke dalam hutan dan menghilang di semak-semak. Para ayam yang melihat hal itu tertawa terpingkal-pingkal. Paling tidak, kini mereka bisa sedikit membalas perbuatan si elang pada anak-anak mereka. Setelah hari itu, si kancil menyuruh para ayam untuk pindah mencari tempat lain. Mereka harus bersembunyi dari elang agar dapat membesarkan anak-anak mereka.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah: kadang sifat dendam dan amarah, sering membutakan mata kita. Sehingga yang aslinya tidak bersalah, ikut terkena dampaknya.